Generasi Dakwah islam
Rabu, 29 Agustus 2018
Minggu, 26 Agustus 2018
Menunduk yang Berfaedah
Menunduk yang Berfaedah
Agustus 26, 2018
assalamu'alaikum wr.wb
Saya sadari betapa rendahnya minat baca di kalangan generasi muda di era milenium ini, terbukti dari banyaknya sindrome bermain game baik offline maupun online.
Pesatnya perkembangan dunia teknologi dengan segala fitur - fiturnya "memanjakan" anak-anak muda membuka sosial media ketimbang membaca buku. Akibatnya nasib buku-buku di perpustakaan tak ubahnya susunan debu sebagai sarang hantu.
Membaca adalah salah satu cara untuk mendapatkan informasi dari sesuatu yang ditulis. Namun pada kenyataannya, minat baca remaja sekarang ini sangatlah rendah. Padahal, banyak manfaat yang dapat diperoleh dari membaca. Banyak faktor yang menjadi penyebab rendahnya minat baca remaja. Salah satunya adalah karena semakin berkembangnya teknologi.
Secara umum, terdapat dua faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya minat baca siswa yaitu Faktor internal adalah faktor yang berasal dari dalam dirinya sendiri, seperti pembawaan, kebiasaan dan ekspresi diri. Sementara faktor eksternal adalah faktor-faktor yang berasal dari luar diri siswa atau faktor lingkungan, baik dari lingkungan keluarga maupun lingkungan sekolah. Faktor eksternal ini mempengaruhi adanya motivasi, kemauan, dan kecenderungan untuk selalu membaca.
Maka dari itu saya sebagai salah satu generasi millenial mengajak teman - teman untuk segera mengubah kebiasaan yang lebih bermanfaat lagi. Karena dengan kita membaca buku akan mendapatkan berbagai manfaat diantaranya seperti memperluas ilmu pengetahuan, menambah ide, serta dapat berfikir secara kritis.
Rinaldy Agustian
Hukum Ekonomi Syariah (Muamalah)
Syariah dan Hukum
Universitas Islam Negeri Sunan Gunung Djati Bandung
Rabu, 21 Juni 2017
Penyebab Mati dalam keadaan Suul Khotimah << Mari Pelajari
Sebagian orang yang mengaku beragama Islam ternyata mengalami suul khatimah. Kondisi suul khatimah biasanya tampak pada sebagian orang yang sedang sakaratul maut.
Shiddiq hasan Khan pernah menceritakan tentang kondisi suul khatimah, “Suul khatimah memiliki sebab-sebab yang harus selalu diwaspadai oleh setiap mukmin.” (Yaqdzah Ulil I’tibar, 211)
Kemudian beliau mennyebutkan empat sebab suul khatimah yang beliau maksud sebagai berikut :
- Penyebab Suul Khatimah: Akidah yang Rusak!
Tak ada artinya jika telah memiliki sifat zuhud, kualitas keshalihan yang tinggi, namun akidahnya rusak. Jika seseorang memiliki akidah yang rusak dan ia meyakininya, bahkan sama sekali tidak menyangka telah berada dalam kekeliruan akidah, maka semua itu akan tersingkap saat sakaratul maut.
Jika seseorang wafat dalam kondisi seperti ini sebelum ia kembali pada iman yang benar, maka ia akan mendapatkan suul khatimah dan wafat dalam kondisi tanpa iman.
Selain itu, ia juga akan termasuk dalam kategori golongan yang telah disebutkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam firman-Nya,
وَبَدَا لَهُمْ مِنَ اللَّهِ مَا لَمْ يَكُونُوا يَحْتَسِبُونَ“Dan jelaslah bagi mereka azab dari Allah yang belum pernah mereka perkirakan.” (QS. Az-Zumar: 47)
Dan ayat,
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُمْ بِالأخْسَرِينَ أَعْمَالاً . الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا“Katakanlah ‘Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan ini, padahal mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104)
Oleh sebab itu, hendaknya setiap manusia selalu memberbaiki akidahnya. Akidah yang benar adalah akidah yang bersumber dari al-Qur’an dan as-Sunnah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam risalah dakwahnya di era awal kebangkitan Islam masa hidup beliau.
2. Penyebab Suul Khatimah: Banyak Maksiat!
Orang yang sering melakukan maksiat, maka kemaksiatan itu akan terus menumpuk dalam hatinya. Semua yang pernah dikumpulkan manusia sepanjang umur kehidupannya, maka memori itu akan muncul dan terulang saat ia mati.
Jika seseorang cenderung kepada ketaatan dan hal-hal yang baik, maka yang paling banyak hadir pada saat ia sakaratul maut adalah memori ketaatan.
Sebaliknya, jika kecenderungannya pada maksiat lebih dominan, maka yang paling banyak hadir saat sakaratul maut adalah memori maksiat.
Bahkan, bisa jadi pada saat maut menjelang dan ia belum taubat, syahwat dan maksiat menguasainya hingga hatinya terikat padanya. Dan akhirnya, dua hal itu menjadi penghalang antara dia dan Rabbnya, serta menjadi penyebab kesengsaraan di akhir hayat.
Adapun orang yang tidak melakukan dosa, atau melakukan dosa namun selalu segera diiringi dengan taubat, maka ia akan dijauhkan dari kondisi tersebut.
Imam adz-Dzahabi mengutip perkataan Mujahid dalam tulisannya, Tidaklah seseorang meninggal kecuali ditampilkan kepadanya orang-orang yang biasa bergaul dengannya. Seseorang yang suka main catur sekarat, lalu dikatakan kepadanya, “Ucapkan Laa Ilaha Illallah.” Ia menjawab, “Skak!” kemudian ia mati.
Jadi, yang mendominasi lidahnya adalah kebiasaan permainan dalam hidupnya. Sebagai ganti kalimat tauhid, ia mengatakan ‘Skak!’ Ini mirip dengan seseorang yang berkawan dengan para pemabuk. Saat sekarat, seseorang datang untuk mengajarkannya mengucap syahadat. Tetapi ia malah berkata, “Mari minum dan tuangkan untukku!” kemudia ia mati. Laa haula wa laa quwwata illa billah. (Al-Kaba-ir, Imam adz-Dzahabi, 91)
3. Penyebab Suul Khatimah: Tidak Istiqamah!
Orang yang semula istiqamah dalam kebaikan, lalu berubah dan menyimpang jauh menuju keburukan, ini bisa menjadi penyebab Suul khatimah.
Sebagaimana iblis yang pada mulanya adalah pemimpin malaikat plus malaikat yang paling giat beribadah, namun kemudian saat ia diperintah untuk sujud kepada Adam, ia membangkang dan menyombongkan diri. Sehingga ia tergolong makhluk yang kafir.
Juga sebagaimana Bal’am Ibnu Ba’ura yang telah sampai kepadanya ayat-ayat Allah ‘Azza wa Jalla. Lalu Allah ‘Azza wa Jalla menurunkannya ke dunia. Ia menuruti hawa nafsunya dan termasuk orang-orang yang sesat.
Keluarnya seseorang dari jalan istiqamah dalam ketaatan harus segera disadarkan dan diluruskan. Agar ia tidak termasuk golongan orang yang mendapatkan Suul khatimah saat sakaratul maut.
4. Penyebab Suul Khatimah: Iman Lemah!
Iman yang lemah dapat melemahkan cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan terus menguatkan cinta kepada dunia dalam hatinya. Lemahnya iman dapat menjajah dan mendominasi dirinya sehingga tidak tersisa dalam hatinya tempat untuk cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla kecuali hanya sedikit bisikan jiwa.
Akibatnya, ia akan terperosok ke dalam lembah nafsu syahwat dan maksiat. Noda hitam yang ada di hatinya akan terus menumpuk dan akhirnya memadamkan cahaya iman yang sudah terlanjur lemah dalam hatinya.
Dalam kondisi seperti itu, jika sakaratul maut datang, ia akan selalu dibayangi rasa khawatir dalam dirinya bahwa Allah ‘Azza wa Jalla murka dan tidak cinta kepadanya. Cinta Allah ‘Azza wa Jalla yang sudah lemah itu berbalik menjadi benci. Akhirnya, bila ia mati dalam kondisi iman lemah, dia akan mendapatkan suul khatimah dan sengsara selamanya.
Sebab, yang melahirkan suul khatimah adalah cinta dan kecenderungan kepada dunia serta lemahnya iman. Semuanya akan berimbas pada lemahnya rasa cinta kepada Allah ‘Azza wa Jalla. (Disadur dari kitab Al-Qiyamah ash-Shughra, Syaikh Umar bin Khattab radhyallahu ‘anhu Sulaiman al-Asyqar) Wallahu a’lam
Semoga bermanfaat ...
Boleh di follow juga @rinaldyagustian30
Terima kasih ... :)
Memberi Nama Bayi dengan Nama Malaikat << Simaklah
Hadirnya sosok buah hati adalah anugerah terindah dari Allah bagi ayah dan ibunya. Kehadirannya adalah sebuah harapan. Buah hati yang kelak akan meneruskan perjuangan orang tua dan dinul Islam.
Maka, sudah selayaknya seorang ayah memberikan segala yang terbaik untuk buah hatinya. Pemberian nama yang baik dan indah pada hari ke tujuh setelah kelahiran juga merupakan hak seorang ayah.
Demi mendapat pilihan nama yang diberkahi, para sahabat selalu merujuk kepada Rasulullah saat ingin memberi nama terbaik buat buah hati mereka. Mereka meminta kepada Rasulullah untuk memilihkan nama terbaik.
Semangat untuk memilih nama yang baik dan indah, terkadang membuat masyarakat muslim non-arab kurang berhati-hati. Maksud hati ingin memilih nama yang baik dan indah, ternyata pilihannya keliru lantaran tidak paham dengan bahasa arab. Padahal nama sudah terlanjur tercatat dalam akta kelahiran.
Lalu, bagaimanakah dengan nama-nama malaikat, bolehkah memilih nama malaikat untuk dipakai sebagai nama buah hati?
Ada sedikit perbedaan pendapat di kalangan para ulama fikih terkait dengan pertanyaan di atas. Namun, jumhur ulama fikih sepakat, boleh memberi nama buah hati dengan nama malaikat. Jibril, Mikail, dan sebagainya.
Imam nawawi menjelaskan, madzhab kami dan madzhab jumhur menyatakan atas bolehnya memberi nama dengan nama para Nabi dan para malaikat shalawatullahi wa salamuhu ‘alaihim.
Tidak ada yang berbeda pendapat kecuali sebuah riwayat dari Umar bin Khattab radhiyallahu ‘anhu bahwasannya beliau melarang memberi nama dengan nama para nabi.
Kemudian riwayat dari al-Harits bin Miskin bahwa beliau memakruhkan memberi nama dengan nama malaikat. Lalu riwayat dari Malik bahwasannya beliau memakruhkan memberi nama dengan nama Jibril dan Yasin.
Dalil kami (Imam an-Nawawi) adalah penamaan Rasulullah kepada salah satu puteranya dengan nama Ibrahim. Lalu banyak para sahabat yang dinamai dengan nama para nabi, baik saat beliau masih hidup atau setelah beliau wafat, sebagaimana hadits yang telah kami sebutkan sebelumnya.Ditambah lagi tidak ada larangan atau memakruhkan secara jelas dari Rasulullah tentang hal itu. (Al-Majmu’, Imam an-Nawawi, 8/417)
Beliau juga pernah berkata, “Tidak makruh memberi nama dengan nama Jibril atau nama malaikat lainnya.” (Kasyaful Qana’, 3/27)
Adapun sebuah hadits tentang seseorang yang mendatangi Rasulullah lalu bertanya tentang nama terbaik, lalu beliau menjawab,
إِنَّ خَيْرَ الْأَسْمَاءِ لَكُمْ الْحَارِثُ وَهَمَّامُ ، وَ نِعْمَ الْاِسْمُ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ ، وَتُسَمُّواْ بِأسْمَاءِ الْأَنْبِيَاءِ ، وَلَا تُسَمُّوْا بِأَسْمَاءِ الْمَلَائِكَةِ
Hadits tersebut dianggap dhaif. Sebab menyelisihi hadits lain yang statusnya shahih dan diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallah ‘anhu, bahwasanya Rasulullah bersabda,
تَسَمَّوْا بِاسْمِي وَلَا تَكْتَنُوا بِكُنْيَتِي
“Namailah dengan namaku, tetapi jangan diberi kunyah dengan kunyahku.” (HR. Al-Bukhari: 110, Muslim: 2143) (lihat al-Mausu’ah al-Fiqhiyah: 11/334)
Meskipun pendapat jumhur membolehkan memberi nama buah hati dengan nama malaikat, namun akan lebih utama jika memberi nama dengan nama Abdullah, Abdurrahman, Muhammad, Ahmad, dan semisalnya, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Wallahu a’lam.
semoga bermanfaat...
Boleh di follow juga @rinaldyagustian30
terima kasih
Pintu Kehancuran Generasi Islam << Wajib Dipelajari
Hancurnya sebuah generasi tidak selalunya terjadi dalam durasi waktu yang singkat. Proses kehancuran sebuah generasi biasanya terjadi secara bertahap. Dimulai dari individu, lalu merebak dan menjalar seperti virus ke setiap individu yang ada dalam lingkungan tertentu.
Demikian pula hancurnya generasi muda Islam. Trend mengikuti tradisi non-Muslim telah ditandai sebagai salah satu pintu penghancuran generasi muda Islam. Dimulai dari individu yang awalnya terkesan belum dikenal luas. Lalu menjalar menulari individu generasi muda muslim yang lain, hingga akhirnya merata ke seluruh generasi muda muslim.
Prediksi terjadinya fenomena ini ternyata sudah jauh-jauh hari dikabarkan oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda,
لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ، وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ، حَتَّى لَوْ سَلَكُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَسَلَكْتُمُوهُ
“Sungguh kalian akan mengikuti kebiasaan kaum sebelum kalian, sama persis jengkal demi jengkal, sehasta demi hasta. Sampai andaikan mereka masuk ke liang biawak, kalian akan mengikutinya.” (HR. Al-Bukhari no. 3456, Muslim no. 2669 dan yang lainnya)
Tanpa ba bi bu, dalam lanjutan hadits di atas Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab dengan tegas atas desakan pertanyaan para sahabat tentang sumber utama tradisi yang akan menghancurkan generasi umat Islam. Beliau menyatakan,
قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودُ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: “فَمَنْ؟
“Kami (para sahabat Nabi) berkata, ‘Wahai Rasulullah, apakah (mereka itu) Kaum Yahudi dan Nasrani?’ Rasulullah menjawab, ‘Lantas siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (HR. Al-Bukhari no. 3456, Muslim no. 2669 dan yang lainnya)
Tradisi apapun yang merupakan ciri khas dan identitas dari keyakinan selain Islam akan memberikan pengaruh kuat pada jati diri, identitas, dan keyakinan seorang muslim. Hati yang bersih akan menjadi kotor, iman yang murni akan ternodai, akhlak yang mulia berubah menjadi durjana. Semakin menggunung noda dalam iman, semakin mudah iman tercabut dari dalam diri seseorang. Walhasil, ia menjadi seperti apa yang ia tiru. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2/50 dan Abu Daud no. 4031. Syaikh Al-Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih, Irwa’ul Ghalil no. 1269)
Syaikh Ibnu Taimiyah juga pernah menjelaskan,
أَنَّ الْمُشَابَهَةَ فِي الْأُمُورِ الظَّاهِرَةِ تُورِثُ تَنَاسُبًا وَتَشَابُهًا فِي الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَلِهَذَا نُهِينَا عَنْ مُشَابَهَةِ الْكُفَّارِ
“Penyerupaan dalam perkara lahiriyah bisa berpengaruh pada keserupaan dalam akhlak dan amalan. Oleh karena itu, kita dilarang menyerupai (tasyabbuh) dengan orang kafir.” (Majmu’ al-Fatawa, Syaikh Ibnu Taimiyah, 22/154)
Ini adalah ancaman keras dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada seluruh umatnya, terutama pada generasi muda muslim, yang kemudian dijabarkan secara terperinci oleh para ulama agar mudah dipahami dan dicerna. Sehingga, jika penjelasan para Ulama tersebut dipahami dengan baik oleh setiap masyarakat muslim, segala bentuk ancaman penghancuran akidah Islam dalam bentuk apapun dapat diminimalisir. Semoga Allah ‘Azza wa Jalla selalu melindungi kita dan para generasi muda Islam dari kehancuran moral dan iman dari arah yang tak disangka-sangka.
semoga bermanfaat..
Boleh di follow juga @rinaldyagustian30
Terima Kasih :)
Puasa tapi Tidak Sholat ini Hukumnya
Puasa Ramadhan adalah ibadah yang hukumnya wajib bagi setiap Muslim yang telah mencapai mukallaf. Orang yang mengingkari kewajiban puasa Ramadhan, maka ia kafir keluar dari lingkaran Islam. Namun, bagaimana dengan orang yang rajin puasa tapi tidak shalat? apakah ibadah puasa yang dilakukan diterima?
Secara hukum, shalat Lima waktu adalah ibadah yang hukumnya wajib. Konsekwensi hukum bagi orang yang meninggalkan shalat, amalannya tidak ada yang diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla, baik berupa haji, puasa, zakat, atau amalan apapun.
Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Buraidah, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berrsabda,
مَنْ تَرَكَ صَلاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ
“Barangsiapa meninggalkan shalat Ashar, maka terhapuslah amalannya.” (HR. Al-Bukhari, 520)
Makna dari habitha ‘amaluhu adalah batal, tidak bermanfaat sama sekali. Hadits ini menunjukkan bahwa orang yang meninggalkan shalat amalannya tidak akan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Amalan yang pernah dia lakukan sama sekali tidak akan mendatangkan manfaat bagi dirinya. Amalannya tidak akan sampai kepada Allah ‘Azza wa Jalla; tidak diterima.
Tentang hadits di atas, Ibnu Qayyim rahimahullah menjelaskan, makna yang terkandung dari hadits tersebut bahwa bentuk at-tarku/meninggalkan itu ada dua: meninggalkan secara keseluruhan, tidak pernah shalat sama sekali. Bentuk ‘meninggalkan’ jenis ini berkonsekwensi pada kesia-siaan seluruh amalannya.
Kemudian bentuk yang kedua, meninggalkan pada bagian atau waktu tertentu saja; tidak shalat pada hari-hari tertentu saja. Bentuk ‘meninggalkan’ jenis ini berkonsekwensi pada kesia-siaan amal hanya pada hari itu saja.
Kesia-siaan amal adalah konsekwensi dari meninggalkan shalat keseluruhan, kesia-siaan tertentu adalah konsekwensi dari meninggalkan shalat pada waktu tertentu saja. (Ash-Shalat, 65)
Syaikh Ibnu Utsaimin pernah ditanya tentang status puasanya orang yang meninggalkan shalat. Beliau menjawab,
تَارِكُ الصَّلَاةِ صَوْمُهُ لَيْسَ بِصَحِيْحٍ وَلَا مَقْبُوْلٍ مِنْهُ؛ لِأَنَّ تَارِكَ الصَّلَاةِ كَافِرٌ مُرْتَدٌّ
Orang yang meninggalkan shalat puasanya tidak sah dan tidak diterima. Sebab orang yang meninggalkan shalat statusnya adalah kafir murtad. (Fatawa ash-Shiyam, 87)
Pernyataan beliau ini didasarkan pada firman Allah ‘Azza wa Jalla,
فَإِنْ تَابُوا وَأَقَامُوا الصَّلاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ
“Jika mereka bertaubat, mendirikan shalat dan menunaikan zakat, maka (mereka itu) adalah saudara-saudaramu seagama.” (QS. At-Taubah: 11)
Kemudian didasarkan pula pada sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
بَيْنَ الرَّجُلِ وَبَيْنَ الشِّرْكِ وَالْكُفْرِ تَرْكُ الصَّلاةِ
“Pemisah antara seseorang dengan syirik dan kufur adalah ditinggalkannya shalat.” (HR. Muslim, 82)
Beliau juga bersabda,
الْعَهْدُ الَّذِي بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ الصَّلاةُ فَمَنْ تَرَكَهَا فَقَدْ كَفَرَ
“Perjanjian antara kami dan mereka adalah shalat. Barangsiapa meninggalkannya, maka ia telah kafir.” (HR. At-Tirmidzi, no. 2621, dishahihkan oleh al-Albani)
Pernyataan tersebut juga telah menjadi pendapat umum para sahabat. Abdullah bin Syaqiq, salah seorang ulama tabi’in mengatakan, para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak mengetahui sebuah amalan yang jika ditinggalkan maka ia menjadi kafir kecuali shalat. Oleh sebab itu, jika seseorang melaksanakan puasa tapi tidak shalat maka puasanya tidak diterima dan sama sekali tidak bermanfaat baginya saat hari kiamat. Maka kami katakan, “Shalatlah, lalu puasalah, karena meskipun engkau puasa tapi tidak shalat, maka puasamu tertolak, sebab orang kafir ibadahnya tidak akan pernah diterima!”
Majelis fatwa Lajnah ad-Daimah pernah ditanya, jika ada seseorang yang rajin puasa Ramadhan dan hanya melaksanakan shalat di bulan Ramadhan saja, kemudian meninggalkan shalat seusai bulan Ramadhan, apakah puasanya diterima. Majelis fatwa tersebut menjawab,
“Shalat adalah salah satu rukun Islam, rukun yang paling urgen setelah syahadat, dan termasuk kewajiban personal (Fardhu ‘Ain). Maka orang yang meninggalkannya baik karena faktor penentangan terhadap hukum wajibnya shalat atau karena faktor meremehkan dan bermalas-malasan maka ia telah kafir.
Dan orang-orang yang hanya puasa dan shalat di bulan Ramadhan saja maka ini adalah bentuk penipuan terhadap Allah ‘Azza wa Jalla. Betapa buruknya orang yang tidak mengetahui Allah ‘Azza wa Jalla kecuali hanya ketika di bulan Ramadhan saja. Puasa mereka tidak sah karena mereka meninggalkan shalat di selain bulan Ramadhan. Bahkan, status mereka adalah kafir dengan kekufuran yang besar meskipun tidak menentang atas wajibnya hukum shalat, menurut pendapat yang benar dari para ulama. (Fatawa al-Lajnah ad-da-imah, 10/140)
Syaikh Abdul Aziz bin Marzuq ath-Thurifi dalam fatwanya menyatakan bahwa orang yang meninggalkan shalat secara keseluruhan maka ia telah kafir. Seluruh amalannya tidak diterima, termasuk puasa. Kemudian bagi orang yang kadang-kadang shalat, kadang-kadang meninggalkan shalat, maka orang seperti ini amalan puasanya masih diterima atas kehendak Allah. Namun ia berstatus sebagai Muslim yang bermaksiat, banyak dosa. (https://www.youtube.com/watch?v=G2cyTvK7uX0)
Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa orang yang rajin puasa tapi tidak shalat berada dalam dua kondisi.
Pertama, jika orang tersebut meninggalkan shalat seluruhnya, tidak pernah shalat sama sekali, maka otomatis ibadah lainnya tidak diterima, termasuk puasa. Sebab secara hukum ia telah kafir.
Kedua, jika ia hanya meninggalkan shalat sebagian saja, terkadang shalat terkadang tidak shalat, maka ia masih berstatus sebagai Muslim, tapi Muslim yang bermaksiat. Amal ibadah lainnya masih mungkin untuk diterima, atas kehendak Allah ‘Azza wa Jalla.
Dengan demikian, hendaknya setiap Muslim selalu menjaga dan melaksanakan seluruh amal ibadah yang hukumnya wajib tanpa tebang pilih, agar seluruh amal ibadah yang ia kerjakan diterima oleh Allah ‘Azza wa Jalla. Bagi masyarakat Muslim yang masih masih terbiasa meninggalkan shalat, hendaknya segera bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Sebab, meskipun rajin puasa tapi tidak shalat, amalan puasa yang dilakukan hanyalah sia-sia. Wallahu a’lam
Di follow juga ya kawan-kawan @rinaldyagustian30
Generasi Terbaik Umat Manusia dalam islam
Generasi terbaik umat ini adalah para sahabat Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mereka adalah sebaik-baik manusia. Lantas disusul generasi berikutnya, lalu generasi berikutnya. Tiga kurun ini merupakan kurun terbaik dari umat ini. Dari Imran bin Hushain radhiyallahu ‘anhuma, bahwa dia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
خَيْرَ أُمَّتِـي قَرْنِي ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ
“Sebaik-baik umatku adalah pada masaku. Kemudian orang-orang yang setelah mereka (generasi berikutnya), lalu orang-orang yang setelah mereka.” (Shahih Al-Bukhari, no. 3650)
Mereka adalah orang-orang yang paling baik, paling selamat dan paling mengetahui dalam memahami Islam. Mereka adalah para pendahulu yang memiliki keshalihan yang tertinggi (as-salafu ash-shalih).
Karenanya, sudah merupakan kemestian bila menghendaki pemahaman dan pengamalan Islam yang benar merujuk kepada mereka (as-salafu ash-shalih). Mereka adalah orang-orang yang telah mendapat keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan mereka pun ridha kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ وَأَعَدَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي تَحْتَهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah: 100)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memerintahkan untuk mengikuti para sahabat. Berjalan di atas jalan yang mereka tempuh. Berperilaku selaras apa yang telah mereka perbuat. Menapaki manhaj (cara pandang hidup) sesuai manhaj mereka. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:
وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ
“Dan ikutilah jalan orang-orang yang kembali kepada-Ku.” (Luqman: 15)
Menukil ucapan Ibnul Qayyim rahimahullahu dalam I’lam Al-Muwaqqi’in, terkait ayat di atas disebutkan bahwa setiap sahabat adalah orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Maka, wajib mengikuti jalannya, perkataan-perkataannya, dan keyakinan-keyakinan (i’tiqad) mereka. Dalil bahwa mereka adalah orang-orang yang kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, (dikuatkan lagi) dengan firman-Nya yang menunjukkan mereka adalah orang-orang yang telah diberi Allah Subhanahu wa Ta’ala petunjuk. Firman-Nya:
وَيَهْدِي إِلَيْهِ مَنْ يُنِيبُ
“Dan (Allah) memberi petunjuk kepada (agama)-Nya, orang yang kembali (kepada-Nya).” (Asy-Syura: 13) (Lihat Kun Salafiyan ‘alal Jaddah, Abdussalam bin Salim bin Raja’ As-Suhaimi, hal. 14)
Maka, istilah as-salafu ash-shalih secara mutlak dilekatkan kepada tiga kurun yang utama. Yaitu para sahabat, at-tabi’un, dan atba’u tabi’in (para pengikut tabi’in). Siapapun yang mengikuti mereka dari aspek pemahaman, i’tiqad, perkataan maupun amal, maka dia berada di atas manhaj as-salaf. Adanya ancaman yang diberikan Allah Subhanahu wa Ta’ala terhadap orang-orang yang memilih jalan-jalan selain jalan yang ditempuh as-salafu ash-shalih, menunjukkan wajibnya setiap muslim berpegang dengan manhaj as-salaf. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا
“Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (An-Nisa’: 115)
Disebutkan oleh Asy-Syaikh Ubaid bin Abdillah bin Sulaiman Al-Jabiri hafizhahullah, bahwa tidaklah orang yang berpemahaman khalaf (lawan dari salaf), termasuk orang-orang yang tergabung dalam jamaah-jamaah dakwah sekarang ini, kecuali dia akan membenci (dakwah) as-salafiyah. Karena, as-salafiyah tidak semata pada hal yang terkait penisbahan (pengakuan). Tetapi as-salafiyah memurnikan keikhlasan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala dan memurnikan mutaba’ah (ikutan) terhadap Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Manusia itu terbagi dalam dua kelompok (salah satunya) yaitu hizbu Ar-Rahman, mereka adalah orang-orang Islam yang keimanan mereka terpelihara, tidak menjadikan mereka keluar secara sempurna dari agama. Jadi, hizbu Ar-Rahman adalah orang-orang yang tidak sesat dan menyesatkan serta tidak mengabaikan al-huda (petunjuk) dan al-haq (kebenaran) di setiap tempat dan zaman. (Ushul wa Qawa’id fi al-Manhaj As-Salafi, hal. 12-13)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam berdasar hadits dari Al-Mughirah bin Syu’bah radhiyallahu ‘anhu, berkata:
لاَ يَزَالُ طَائِفَةٌ مِنْ أُمَّتِـي ظَاهِرِيْنَ حَتَّى يَأْتِيَهُمْ أَمْرُ اللهِ وَهُمْ ظَاهِرُونَ
“Akan selalu ada sekelompok orang dari umatku yang unggul/menang hingga tiba pada mereka keputusan Allah, sedang mereka adalah orang-orang yang unggul/menang.” (Shahih Al-Bukhari, no. 7311)
Menurut Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu, bahwa yang dimaksud hadits tersebut adalah adanya sekelompok orang yang berpegang teguh dengan apa yang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat berada di atasnya. Mereka adalah orang-orang yang unggul/menang, tak akan termudaratkan oleh orang-orang yang menelantarkannya dan orang-orang yang menyelisihinya. (Syarhu Ash-Shahih Al-Bukhari, 10/104)
Bila menatap langit zaman, di setiap kurun, waktu, senantiasa didapati para pembela al-haq. Mereka adalah bintang gemilang yang memberi petunjuk arah dalam kehidupan umat. Mereka memancarkan berkas cahaya yang memandu umat di tengah gelap gulita. Kala muncul bid’ah Khawarij dan Syi’ah, Allah Subhanahu wa Ta’ala merobohkan makar mereka dengan memunculkan Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Begitupun saat Al-Qadariyah hadir, maka Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin ‘Abdillah radhiallahu ‘anhum dari kalangan sahabat yang utama melawan pemahaman sesat tersebut. Washil bin ‘Atha’ dengan paham Mu’tazilahnya dipatahkan Al-Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin, dan lain-lainnya dari kalangan utama tabi’in. Merebak Syi’ah Rafidhah, maka Al-Imam Asy-Sya’bi, Al-Imam Syafi’i, dan para imam Ahlus Sunnah lainnya menghadapi dan menangkal kesesatan Syi’ah Rafidhah. Jahm bin Shafwan yang mengusung Jahmiyah juga diruntuhkan Al-Imam Malik, Abdullah bin Mubarak, dan lainnya. Demikian pula tatkala menyebar pemahaman dan keyakinan bahwa Al-Qur’an adalah makhluk bukan Kalamullah. Maka, Al-Imam Ahmad bin Hanbal tampil memerangi pemahaman dan keyakinan sesat tersebut.
Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memunculkan para pembela risalah-Nya. Mereka terus berupaya menjaga as-sunnah, agar tidak redup diempas para ahli bid’ah. Bermunculan para imam, seperti Al-Imam Al-Barbahari, Al-Imam Ibnu Khuzaimah, Al-Imam Ibnu Baththah, Al-Imam Al-Lalika’i, Al-Imam Ibnu Mandah, dan lainnya dari kalangan imam Ahlus Sunnah. Lantas pada kurun berikutnya, ketika muncul bid’ah sufiyah, ahlu kalam dan filsafat, hadir di tengah umat para imam, seperti Al-Imam Asy-Syathibi, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah beserta murid-muridnya, yaitu Ibnul Qayyim, Ibnu Abdilhadi, Ibnu Katsir, Adz-Dzahabi, dan lainnya rahimahumullah.
Sosok Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sendiri bagi sebagian umat Islam bukan lagi sosok yang asing. Kiprah dakwahnya begitu agung. Pengaruhnya sangat luas. Kokoh dalam memegang sunnah. Sebab, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, sesungguhnya tidak ada kebahagiaan bagi para hamba, tidak ada pula keselamatan di hari kembali nanti (hari kiamat) kecuali dengan ittiba’ (mengikuti) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
تِلْكَ حُدُودُ اللهِ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ يُدْخِلْهُ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَذَلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ. وَمَنْ يَعْصِ اللهَ وَرَسُولَهُ وَيَتَعَدَّ حُدُودَهُ يُدْخِلْهُ نَارًا خَالِدًا فِيهَا وَلَهُ عَذَابٌ مُهِينٌ
“(Hukum-hukum tersebut) itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar. Dan barangsiapa yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan melanggar ketentuan-ketentuan-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam api neraka sedang ia kekal di dalamnya; dan baginya siksa yang menghinakan.” (An-Nisa’: 13-14)
Maka, ketaatan terhadap Allah Subhanahu wa Ta’ala merupakan poros kebahagiaan yang seseorang berupaya mengitarinya, juga merupakan tempat kembali yang selamat yang seseorang tak akan merasa bingung darinya.
Sungguh Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menciptakan makhluk dalam rangka untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana firman-Nya:
وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku.” (Adz-Dzariyat: 56)
Sesungguhnya peribadahan mereka dengan menaati-Nya dan taat terhadap Rasul-Nya. Tidak ada ibadah kecuali atas sesuatu yang telah Dia (Allah Subhanahu wa Ta’ala) wajibkan dan sunnahkan dalam agama Allah Subhanahu wa Ta’ala. Selain dari itu, maka yang ada hanyalah kesesatan dari jalan-Nya. Untuk hal ini Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُناَ فَهُوَ رَدٌّ
“Barangsiapa melakukan satu amal yang tidak ada dasar perintah kami, maka tertolak.” (Shahih Al-Bukhari no. 2697 dan Shahih Muslim, 1718)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pula dalam hadits Al-Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu yang diriwayatkan Ahlu Sunan dan dishahihkan At-Tirmidzi rahimahullahu:
إِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِـي وَسُنَّةِ الْـخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْـمَهْدِيِّينَ مِنْ بَعْدِي تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ
“Sesungguhnya kalian akan hidup setelahku, kalian akan mendapati banyak perselisihan. Maka, pegang teguh sunnahku dan sunnah khulafa ar-rasyidin yang mendapat petunjuk setelahku. Pegang teguh sunnah dan gigit dengan gerahammu. Dan hati-hatilah dari perkara yang diada-adakan, karena setiap bid’ah itu sesat.” (HR. At-Tirmidzi no. 2676) [Lihat Majmu’ah Al-Fatawa,1/4]
Itulah manhaj (cara pandang) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam menetapi Islam. Cara pandang inilah yang telah hilang dari sebagian kaum muslimin sehingga terjatuh pada perkara-perkara yang diada-adakan, yang perkara tersebut tidak dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Perkara tersebut mereka ada-adakan dengan mengatasnamakan Islam. Padahal Islam sendiri tak mengajarkan semacam itu. Mereka terbelenggu bid’ah nan menyesatkan.
Kekokohan memegang teguh prinsip beragama oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu digambarkan oleh Al-Hafizh Al-Mizzi rahimahullahu. Kata Al-Hafizh Al-Mizzi rahimahullahu, “Aku tak pernah melihat orang yang seperti beliau. Tidak pula dia melihat orang yang seperti dirinya. Aku melihat, tidak ada seorangpun yang lebih mengetahui dan sangat kuat mengikuti Al-Kitab dan sunnah Rasul-Nya dibanding beliau. Pantaslah bila sosok Syaikhul Islam senantiasa membuat susah para ahlu bid’ah. Disebutkan Al-Hafizh Ibnu Abdilhadi rahimahullahu, bahwa beliau rahimahullahu adalah pedang terhunus bagi orang-orang yang menyelisihi (Al-Kitab dan As-Sunnah). Menyusahkan orang-orang yang mengikuti hawa nafsu, yang suka mengada-adakan ajaran (baru) dalam agama. (Al-Ushul Al-Fikriyah Lil-Manahij As-Salafiyah ‘inda Syaikhil Islam, Asy-Syaikh Khalid bin Abdirrahman Al-‘Ik)
Kecemburuan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu terhadap harkat martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam begitu besar. Itu bisa tergambar melalui tulisan beliau rahimahullahu yang berjudul Ash-Sharimu Al-Maslul ‘ala Syatimi Ar-Rasul (Pedang Terhunus terhadap Orang yang Mencaci Rasul Shallallahu ‘alaihi wa sallam). Tulisan ini merupakan sikap ilmiah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam menyikapi orang yang mencaci-maki Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Mencaci Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri bukan perkara ringan. Ini menyangkut nyawa manusia. Sikap tegas, ilmiah, dan selaras akal sehat ini merupakan bentuk penjagaan beliau rahimahullahu terhadap Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan risalah yang dibawanya.
Bahkan tatkala beliau dipenjara pun, senantiasa menyebarkan kebaikan kepada sesama penghuni penjara. Beliau rahimahullahu memberi bimbingan, melakukan amar ma’ruf, dan mencegah kemungkaran. Dikisahkan Al-Hafizh Ibnu Abdilhadi rahimahullahu, tatkala beliau masuk tahanan, didapati para penghuni tahanan sibuk dengan beragam permainan yang sia-sia. Di antara mereka sibuk dengan main catur, dadu, dan lainnya. Mereka sibuk dengan permainan tersebut hingga melalaikan shalat. Lantas Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu mencegah hal itu secara tegas. Beliau memerintahkan mereka untuk menetapi shalat. Mengarahkan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam setiap amal shalih. Bertasbih, beristighfar, dan berdoa. Mengajari mereka tentang sunnah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sesuai yang mereka butuhkan. Beliau rahimahullahu mendorong mereka untuk suka melakukan amal-amal kebaikan. Sehingga jadilah tempat tahanan tersebut senantiasa dipenuhi kesibukan dengan ilmu dan agama. Bilamana tiba waktu pembebasan, para narapidana tersebut lebih memilih hidup bersama beliau. Banyak dari mereka yang lantas kembali ke tahanan. Akibatnya, ruang tahanan itu pun penuh. (Al-Ushul Al-Fikriyah hal. 51)
Demikianlah kehidupan seorang alim. Keberadaannya senantiasa memberi manfaat kepada umat. Dia menebar ilmu, menebar cahaya di tengah keterpurukan manusia. Dia laksana rembulan purnama di tengah bertaburnya bintang gemilang. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi perumpamaan keutamaan antara seorang alim dengan seorang abid (ahli ibadah). Dari Abud Darda’ radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
وَفَضْلُ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ عَلَى سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءَ، إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَـمْ يُوَرِّثُوا دِيْنَارًا وَلاَ دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَّثُوا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Dan keutamaan seorang alim dibanding seorang ahli ibadah, bagai rembulan atas seluruh bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidaklah mewariskan dinar dan dirham, (tetapi) mereka mewariskan ilmu. Barangsiapa mampu mengambilnya, berarti dia telah mengambil keberuntungan yang banyak.” (Sunan At-Tirmidzi, no. 2682, Sunan Abi Dawud no. 3641, Asy-Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani rahimahullahu menshahihkan hadits ini)
Begitulah seorang alim. Dia laksana rembulan di langit zaman. Wallahu a’lam.
Langganan:
Komentar (Atom)
-
Sebagian orang yang mengaku beragama Islam ternyata mengalami suul khatimah . Kondisi suul khatimah biasanya tampak pada sebagian oran...
-
Hadirnya sosok buah hati adalah anugerah terindah dari Allah bagi ayah dan ibunya. Kehadirannya adalah sebuah harapan. Buah hati yang kel...
-
Hancurnya sebuah generasi tidak selalunya terjadi dalam durasi waktu yang singkat. Proses kehancuran sebuah generasi biasanya terjadi se...










